Monday, May 17, 2010

:: catatan seorang guru ::

Saya sangat mengagumi kerjaya sebagai seorang guru sekolah. Sebuah kisah yang saya paparkan ini saya ulangi dari kisah benar seorang guru beberapa tahun yang lalu.
Ceritanya:
Saya mengajar di sekolah rendah di tengah tengah bandaraya Kuala Lumpur. Salah seorang murid saya setiap hari datang lambat ke sekolah. Kasut dan bajunya selalu kotor. Setiap hari saya bertanya tentang baju dan kasutnya, tetapi dia hanya berdiam diri. Saya masih bersabar dengan pakaiannya tetapi kesabaran saya tercabar dengan sikapnya yang setiap hari datang lambat.
Pada mulanya saya hanya memberi nasihat. Dia hanya menundukkan kepala tanpa berkata kata kecuali anggukan yang seolah olah dipaksa. Kali kedua saya memberi amaran, dia masih mengangguk tetapi masih juga datang lambat keesokan harinya. Kali ketiga saya terpaksa menjalankan janji saya untuk memukulnya kalau masih lambat. Anehnya dia hanya menyerahkan punggungnya untuk dirotan. Airmata sahaja yang jatuh tanpa sepatah kata dari mulutnya.
Keesokan harinya dia masih juga lambat, dan saya masih memukulnya lagi. Namun dia tetap datang ke sekolah tetapi tetap juga lambat.
Suatu hari saya bercadang untuk mengintipnya di rumah. Dia tinggal di kawasan setinggan tidak jauh dari kawasan sekolah. Keadaan rumahnya sangat daif. Saya lihat dia berdiri di hadapan rumahnya dalam keadaan gelisah. Seorang wanita yang mungkin ibunya juga kelihatan gelisah.
Lebih kurang pukul 1.30 petang, seorang anak lelaki sedang berlari lari sekuat hati menuju ke rumah itu. Sambil berlari dia membuka baju sekolahnya. Sampai di halaman rumah, baju dan kasutnya diserahkan pula kepada murid saya dan dia terus memakainya. Sebelum pakaian sekolah sempurna dipakai, dia sudah pun berlari ke sekolah.
Saya kembali ke sekolah dengan penuh penyesalan. Saya memanggil anak itu sambil menahan air mata yang mula bergenang.
"Maafkan cikgu. Td cikgu pergi ke rumah kamu dan memerhatikan kamu dari jauh. Siapa yang berlari memberikan kamu baju td?"
Dia terkejut dan wajahnya berubah.
"Itu abang saya. Kami kongsi baju dan kasut sebab tak ada baju dan kasut lain. Itu saja baju dan kasut yang ada. Maafkan saya cikgu"
"Kenapa kamu x beritahu cikgu dan kenapa kamu biarkan saja cikgu memukul kamu?"
"Mak pesan, jgn meminta minta pd org, dan jgn critakan kemiskinan kita pada org. Kalau cikgu nak pukul serahkan saja punggung kamu"
Sambil menahan airmata yang mula berguguran saya memeluk anak itu, "maafkan cikgu..."
Kejadian itu cukup menginsafkan saya. Selepas itu saya cuba membantunya setakat yang mamapu.
Cerita begini membantu melembutkan hati yang keras. Kata seorang guru, sekiranya hati kita mula keras, lembutkanlah dengan perkara perkara yang berikut:
1) solat sunat
2) puasa sunat
3) berzikir
4) bersedekah
5) mengusap rambut anak yatim
6) mendengar cerita cerita kesusahan org lain
7) membantu org susah
selamat hari guru

1 comment:


  1. SAYA SANGAT BERSYUKUR ATAS REJEKI YANG DIBERIKAN KEPADA SAYA DAN INI TIDAK PERNAH TERBAYANKAN OLEH SAYA KALAU SAYA BISA SEPERTI INI,INI SEMUA BERKAT BANTUAN MBAH RAWA GUMPALA YANG TELAH MEMBANTU SAYA MELALUI NOMOR TOGEL DAN DANA GHAIB,KINI SAYA SUDAH BISA MELUNASI SEMUA HUTANG-HUTANG SAYA BAHKAN SAYA JUGA SUDAH BISA MEMBANGUN HOTEL BERBINTANG DI DAERAH SOLO DAN INI SEMUA ATAS BANTUAN MBAH RAWA GUMPALA,SAYA TIDAK AKAN PERNAH MELUPAKA JASA BELIAU DAN BAGI ANDA YANG INGIN DIBANTU OLEH RAWA GUMPALA MASALAH NOMOR ATAU DANA GHAIB SILAHKAN HUBUNGI SAJA BELIAU DI 085 316 106 111 SEKALI LAGI TERIMAKASIH YAA MBAH DAN PERLU ANDA KETAHUI KALAU MBAH RAWA GUMPALA HANYA MEMBANTU ORANG YANG BENAR-BANAR SERIUS,SAYA ATAS NAMA PAK JUNAIDI DARI SOLO DAN INI BENAR-BENAR KISAH NYATA DARI SAYA.BAGI YANG PUNYA RUM TERIMAKASIH ATAS TUMPANGANNYA.. BUKA DANA GHAIB MBAH RAWA GUNPALA

    ReplyDelete